….

März 10, 2007

 

Tala’al-badru ‘alayna,
Min thaniyyati al-wada’
Wajaba al-shukru ‘alayna,
Ma da’a lillahi da’

Min thaniyyatil-wada’ wajaba al-shukru ‘alayna
Ma da’a lillahi da’

O the white moon rose over us
From the valley of wada’
And we owe it to show gratefulness
Where the call is to Allah

Ayyuha al-mab’uthu fina
Ji’ta bi-al-amri al-muta’
Ji’ta sharrafta al-madinah
Marhaban ya khayra da’

Oyou who were raised amongst us
Coming with a word to be obeyed
You have brought to this city nobleness
Welcome! best caller to God’s way

Imagine dalam ruangan orkestra besar. Disudut kanan pemain orkestra (saxophone, flugelhorn, cornet, euphonium, glass harmonika, harpsichord, wagner tuba, accordion, theremin, ondes martenot, mandolin, violin, guitar, sitar, organ, harmonium dan beberapa perkusi mainin musik ini. Sementara di sudut kiri pemain teater mementaskan drama kisah hidup dan perjuangan rasul dan para sahabat di Mekkah sampai hijrahnya keMadinah. (Rasul hanya ditampilkan dalam bentuk tulisan Muhammad).  Mainan lampu dan tata panggung sederhana, namun para pemain bernafas, berkarater. Para pemain orkestra&opera adalah ahli dzikir yang juga selalu berdoa sebelum dan setelah pentas, dan memang orang-orang yang mengetahui sejarah nabi & merasa hidup di dalamnya.

Ada kalanya disudut kanan, seorang gitaris main tunggal oktaf tinggi di reff, terus masuk acapella. Permainan kolaborasi nada tinggi&rendah yang sulit diterka, mengesankan, yang terpenting membawa pemahaman dan pengenalan tentang Rasul yang hampir-hampir meluntur di kultur zaman ini.